SELALU SEPERTI INI

July 6th, 2009

Aku juga manusia yang punya hati, aku juga berhak dapatkan apapun yang orang lain dapatkan. tapi selalu saja seperti ini,, q selalu merasa di kecewakan dan berakhir sakit. aku berikan kepercayaan padanya tapi skrang dia telah miliki yang lain disana. aku cemburu melihat  dia miliki yang lain, sedangkan aku masih belum bisa berpaling. aku kangen sama dia…. tapi keputusan ini terbaik. Q bingung,,,,,,,,,,,,,,,,,,,.

waktu datang hanya menyita perhatiannya, Q selalu saja seperti ini,,, selalu dan entah sampai kapan. q tak mengerti knapa harus ada rasa itu diantara kami, aku telah terlanjur menaruh hati,,, aku sudah tahu resiko ini….. aku salah  telah mengulang kesalahan. pengalaman itu tak pernah ku fungsikan, tak pernah ku artikan.

KATA-KATA SEDERHANA

June 27th, 2009

Bahasaku ini “kataku, aku butuh”. Tapi tak akan terangkat kata-kataku,
Persembunyian terlalu rapat, hingga aku sulit bernafas.
Disini gelap, pengap, air mata mengalir liar,
Bukan di goa–goa, disini, nyata, terlihat, dan tampak utuh.

Apalagi? Tanyaku memberontak pengecut jiwa,
Memukul-mukulnya dengan makian, tapi tak teriak, dan tak terdengar.
Dindingnya terlalu tebal, untuk menyampaikan pesan.
Ini, bukti kekuatan rahasia “sambil menunjuk sebagian sayatan-sayatan luka”
Perih, hanya aku yang merasa, hanya aku yang tahu, hanya aku yang menulis.

Ungkapan kecil, kertas buram, dan pojok kamar, adalah pendengar setia.
Lembaran kertas putih tertata, saksi mata, dan pengakuan sederhana.
Goresan perasaan, adalah bukti terkuat yang akan dikuak
tentang perjalanan, kehidupan serta perasaan nan terlalu indah untuk diceritakan.
Bukan mimpi, karena masih terasa…

HANYA KATA-KATA

June 27th, 2009

Prak,,, prak, suara seperti sebuah piring yang dijatuh-jatuhkan dilantai rumah. Itu adalah melodi yang hampir terdengar setiap hari, dari bilik kesetiaan yang dibangun kokoh tiang-tiang penyangganya. Tapi entah apa yang menyebabkan suatu ketidak kecocokan itu hadir. Cinta mereka lama terjalin, tapi baru beberapa bulan terakhir ini sepertinya diradang penyakit yang siap menjelek-jelekkan satu sama lain.
Atap rumah yang tua itu sepertinya memberikan isyarat, butuh pembenahan, butuh perawatan dan butuh perubahan,,

Bukan penyakit bahasa ataupun apa, tapi mereka perselisihan cenderung dalam hinggapi kebaikan-kebaikan, mencari tikungan-tikungan kesalahan masing-masing. Karena sudah tersandung hati dan mengeras, siap mencengkeram dan butuh pertanggung jawaban.
“tentang apakah?” Tanya tetangga yang lain, berbisik, berkumpul dan saling bercengkrama karena tidak ada kejelasan, tapi kentara. Karena bukan rahasia lagi, sepertinya tidak ada yang bisa menahan kekesalan lagi.

Tidak lama kemudian,,
“Aku tampar kau, kalau masih ngungkit-ngungkit itu lagi !!” bentak seseorang laki-laki dari dalam rumah itu.

(Entah apa yang sedang mereka perselisihkan, tembok rumah tetangga sepertinya sudah berlubang, hingga rahasia secuilpun mampu menyusupi pori-pori hingga ke kamarku, kucoba menutup kedua telingaku dengan tangan-tangan yang kokoh ini. Tapi bahasanya menyusupi urat-urat tangaku, menyampaikan pesan singkat dan aku mendengarnya tanpa bisa berkata tidak).
“Tampar saja, dasar anjing, itu kan pekerjaan kamu,!!!” bantahan keras suara perempuan sembari membela diri. “Dasar suami tak berguna, aku menyesal hidup bersamamu !!.” Nada kedua semakin mengejutkan dan meninggi “

“Kamu bilang apa,,, ??” Plak,,Plak,, suara belaian kasar dan berulang-ulang itu mendarat dilembutnya pipi itu meninggalkan segores luka yang segar mengalir di antara bibir yang sedari tadi tak bisa diam.
Sebagian dari belahan jiwanya ada yang mencoba mendamaian, bukan dengan peluit ataupun pecahan piring yang berserakan. Tapi suara tangisnya membungkan emosi, meremas-remasnya kian hancur dan semakin tak tertata. Bahasanya sepertinya dia tahu apa yang dia katakan.

Keteduhan hadir, sebentar menyapa…, lalu!!
“Dasar, kurang ajar…!!!, pergi saja kamu dari sini, Jangan sentuhkan kakimu disini lagi. Ini rumahku. Aku yang berkuasa disini, aku bisa hidup tanpa kamu…” Sembari berceceran air mata, Suara wanita yang serak dan terbata-bata itu memberikan peringatan dan bentakan yang teramat dahsyat.
“Ok, aku akan pergi sekarang. Aku gak akan kembali kerumah ini lagi, aku memang suami yang tidak berguna, tidak bisa membahagiakanmu”.

Suara itu berubah keheningan hingga beberapa hari, datar dan kepergian laki-laki itu menghipnotis suasana hati. Anak kecil mereka sepertinya menangis, tetangga juga takut peduli.Minggu berlalu, menjemput bulan-bulan yang tetap sendiri. Datar dan tanpa air mata lagi.

SURAT UNTUK LEO

June 27th, 2009

Cinta yang kita lalui ini terlalu sulit dan berbahaya,
Entah siapa yang mengajarinya, tapi kita berani jujur.
Perasaan benar-benar terjaga, karena kita juga masih merasa takut,
Bahasa dan suara-suara kita juga sudah sedemikian pelan,
Supaya mereka tidak mendengarnya.

Kau menyusup dalam dibalik kesetiaanmu bersamanya
Kau tersenyum tulus saat mata kita bertemu, dan malu-malu.
Sepertinya kau ingin ungkapkan sesuatu
Seperti yang ada dalam hati ini juga
Entah kenapa ini mesti terjadi.

Untukmu Leo,
Pernah berhasil menyuai hatiku dengan lagu-lagu itu,
Nanti jika ada waktu kita bertemu, bercerita, dan bersama
Aku hanya ingin kita benar-benar dewasa, meskipun berat sekalipun
Meskipun kedewasaan dan perasaan kita telah dikalahkan waktu.

Untukmu Leo,
Katanya ini adalah kenangan kita, tapi tidak sesempurna harapan
Karena kita bukanlah kita yang memiliki kebebasan,
Sebebas burung terbang di atas sana.
Kita masih terjerat rantai yang sama,
Dan yang bias memisahkan rantai itu adalah “bahasa mereka”.
Aku tak ingin kamu dan aku malu, karena melanjutkan kesalahan
Aku juga tak ingin kita malu dan bersedih karena beberapa syarat.

Untukmu Leo,
Letakkan hatimu didasar hatiku,
Biarkan waktu yang mengungkap sendiri, tentang perasaan dan hati.
Letakkan ketulusan itu disamping senyum-senyummu,
Agar aku bias melihat dan percaya tentang hari-hari ini.
Tiada yang menguatkan hati ini lagi,
Aku masih berharap kita dewasa bersama, tanpa ada yang tersakiti.

Untukmu Leo,
Aku percaya goresan pena nanti akan sampai padamu,
Disana “sudah kurencanakan” aku tak berpaling.

Sahabat

June 27th, 2009

Katanya, aku bisa membuatnya bangkit,
Katanya, aku memberikan semangat,
Katanya aku selalu bisa ceria,
Katanya aku selalu bisa tertawa dan membuatnya bahagia.
Katanya aku periang.

Aku terdiam, menerawangi pujian itu.
Aku menunduk, karena aku hanyalah aku yang bisa membuat luka
Aku seperti inilah adanya,
Aku, ingin meminta maaf tentang semua dan semuanya.
Aku hanya bisa jadi penghibur yang sementara,
selanjutnya aku tak berani meneruskan, tak berani memutuskan
Adai dia tahu, meskipun aku tidak memilih, tapi aku punya pilihan
Aku inginkan aku yang sekarang ada, menjadi diriku
Riang,,,

AKU BICARA TENTANG HATI

June 27th, 2009

Aku bukan sedang bermimpi dan berhalusinasi
Aku sedang berusaha menulis sesuatu yang ada.
Suara dibalik tembok itu, entah mereka tahu apa tidak tentang yang sebenarnya.
Tatapan mata yang teduh, adakah mereka juga mengerti tentang malam itu?
Mereka mengerti senyumku dan cerita indah di pagi hari,
Sebelum aku berpaling, dan lepaskan genggaman jemari itu,
Mereka tak berusaha tuk menilaiku lebih, karena terlanjur percaya.

Aku yang diam, dia yang tak pernah sering bersastra
Mampu memberikan kepercayaan pada mereka,
“tak terjadi apa-apa” kataku lirih membisik di telinga hati
ini rahasia dan kenangan indah “tak apa-apa” bisikan itu menguatkan aku
dia dan aku telah dewasa,
dia telah mengenal aku, dan rahasia.

Aku tak ingin dianggap berandai-andai lagi,
Ini adalah kehidupan yang pernah berputar dulu
Dan sekarang aku larut dalam putaran ke dua.
Ini adalah tentang harapan dan perasaan,
Dan sekarang aku larut dalam alur cerita “bagai dipewayangan”
Aku juga sedikit tak percaya,
Tapi perasaan adalah sebuah lintasan menuju pintu gerbang kesetiaan
“kata kakakku suatu sore”, tapi sore ke dua dia menghamburkan tubuhnya
dan kembali duduk-duduk diteras rumahku hanya sesekali.

Aku bukan sedang bermimpi dan berhalusinasi
Tapi sedang bercerita tentang perasaan yang terkadang tak mungkin dipercaya.
Seperti saat kemarin, disana
Entah besok, jalan apa yang akhirnya terpilih
Aku tak ingin ada kekecewaan, karena sudah terlanjur menaruh perasaan.
Kedewasaanku, terkalahkan waktu
Aku tahu,
Aku juga salah,
Tapi aku juga manusia yang punya hati dan rasa cinta.
Dan aku tak ingin dianggap berandai-andai lagi
Meskipun mereka tak pernah menilaiku lebih.

SAMPAI PADA BAIT KEDUA

June 27th, 2009

Kekasih …
Malam ini, menyapaku, menggodaku
Aku berhayal kau ada bersamaku, ternyata ada (potretmu meski hanya buram senja)
Aku tersenyum malu-malu menanti detik-detik itu
Sebelum seru suara mengantarkan pada kehidupan yang jauh,
ternyata kamu masih ada.

Kekasih…
Fitrah kecil itu mengingatkan aku,
Hingga ku hentikan laguku yang hampir sampai pada lirik kedua
Suaranya lembut, mendetakkan.
Aku menundukkan kepalaku, menutupi sebagian wajah dengan rambutku
Senyum itu damai, dibalik tirai putih yang membalut disekujur tubuhnya.

Kekasih …
Kemarin kita beradu kata, bercerita, berlempar sastra
Kita tertawa bersama sampai terbawa dimimpi,
Tapi aku tak bercerita kepadamu,
Karena aku tak pandai merangkai kata yang sesuai.

Kekasih …
Gitarmu masih tertinggal disini, disampingku,
Dengarkanlah suaraku,
Tak lembut, tapi mampu melanjutkan sebait yang terpenggal kemarin.